Sabtu, 24 Februari 2024

SABEN LINGSIR WENGI




 

Februari 2023

                Nirmala Kumala Sari adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kurang berkecukupan, sehingga membuatnya harus bekerja sendiri untuk sekolah di umur nya yang ke dua belas. Nirmala merupakan anak yang sudah ditinggal oleh ibunya sejak kecil, hal ini yang membuatnya menjadi pribadi yang mandiri, Nirmala masih mempunyai seorang Ayah, akan tetapi ayahnya sedikit gila karena ditinggalkan oleh istrinya. Hal ini juga yang membuat Nirmala terpukul  ketika hidupnya. Nirmala juga sering dipukul oleh ayahnya ssendiri, walaupun ia tak bersalah apapun. Pada umurnya yang ke dua belas ini, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, akibat ayahnya yang sudah dipecat dari pekerjaannya dulu, ketika masih bekerja di sebuah perusahaan.

                Kini Nirmala bekerja di sebuah rumah besar, merawat seorang nenek yang berkebutuhan khusus. Nenek ini ditinggalkan oleh anaknya bekerja, anaknya sendiri bekerja sebagai CEO sebuah perusahaan besar. Anak dari seorang nenek yang diasuh oleh Nirmala ini bernama Andhika Prasetya, ia jarang sekali bertemu dengan ibunya, karena kerepotannya pada pekerjaannya, hal ini yang membuat Andhika mencari pengasuh, untuk merawat ibunya, dan Nirmala terpilih menjadi pengasuh ibunya.

                Pada pagi ini Nirmala berangkat dari rumahnya untuk pertama kalinya bekerja di rumah besar tersebut. Nirmala memasak untuk ayahnya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja, dan Nirmala juga makan terlebih dahulu, sambil menyuapi ayahnya. Seorang anak perempuan datang ketika Nirmala dan ayahnya sedang menikmati hidangan, gadis itu mengetuk pintu kayu rapuh rumah Nirmala. Gegas Nirmala segera datang menghampiri orang yang megetuk pintu rumahnya tersebut. Ketika sudah di depan pintu Nirmala melihat seorang gadis dengan kaos hitam lusuh, gadis itu merupakan teman Nirmala yang dulu dirawat oleh ayah dan juga ibu Nirmala, karena sejak lahir gadis ini sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang bercerai. Gadis tersebut bernama Lingsir Nigrahayu, Lingsir datang untuk merawat ayah Nirmala, membantu Nirmala sebagai ucapan terima kasih, karena dulu sudah merawatnya, Lingsir akan merawat ayah Nirmala selama Ia bekerja di rumah besar tersebut. Lingsir merupakan salah satu anak yang mempunyai penglihatan supranatural, dan sebelumnya Lingsir bekerja di sebuah rumah, ia diminta untuk merawat seorang anak tunanetra. Sudah bertahun-tahun Lingsir bekerja di rumah tersebut, tapi suatu hari dimana Lingsir tak dapat melupakannya, anak tunanetra yang dirawat Lingsir tewas mengenaskan, anak tunanetra tersebut meninggal tertimpa rak buku, saat anak tersebut ingin mengambil sebuah buku, di rak tersebut. Lingsir yang melihat kejadian tersebut di depan mata kepalanya sendiri trauma dengan apa yang sudah dia lihat dahulu. Lingsir di jadikan tersangka oleh keluarga anak tunanetra ini, hingga kini. Pertanda kematian anak tunanetra ini sudah diketahui oleh Lingsir sebelumnya. Saat Lingsir sedang membersihkan rumah yang ditempati anak tunanera tersebut, Lingsir melihat seorang arwah yang  melihatnya dengan tatapan  kosong, hal ini tidak terlalu dihiraukan oleh Lingsir, karena sudah biasa arwah berperilaku seperti ini. Akan tetapi Lingsir mulai curiga dengan adanya kemunculan arwah tersebut, karena arwah tersebut muncul setiap harinya, dan semakin lama posisinya mulai mendekat dengan posisi anak tunanetra yang Ia rawat. Lingsir yang sudah tau bahwa arwah itu merupakan santet yang dikirim oleh seeorang yang berselisih harta dengan keluarga anak tunanetra ini, mulai memberanikan dirinya untuk melawan ''santet'' tersebut. Lingsir bertanya kepada arwah tersebut ”ada keperluan apa anda datang menemui anak ini?” tanya Lingsir, santet terebut mejawab “sing gak nduwe urusan gak usah melu-melu”. Sambil bergetar ketakutan karena sosok arwah tersebut, dengan berpakaian muslim wanita dan bercadar, dengan mata merah melotot yang hampir keluar, Lingsir menjawab ungkapan dari arwah tersebut”Apakah dia mempunyai kesalahan kepadamu, siapa kamu?” dengan ketawa yang memekikkan duping teliga Lingsir, arwah tersebut menjawab”Sudah kubilang, sing gak nduwe urusan karo aku gak usah melu-melu!” dengan teriakan, arwah tersebut melemparkan tubuh Lingsir menghantam tembok. Arwah terebut perlahan berjalan menuju arah anak tunanetra itu yang sedang ingin mengambil buku di sebuah rak buku besar tempat koleksi bukunya disimpan, Lingsir yang tersadar bahwa anak tunanetra tersebut terancam nyawanya, langsung berlari dan memukul peluk arwah tersebut, arwah tersebut dengan mudah mengangkat Lingsir, dan memuntahkan darah kedalam mulut Lingsir, lalu menghujamkan tubuh Lingsir ke tanah, dan menimpanya dengan tumpukan tinggi kardus karton, Lingsir pun pingsan akibat kejadian tersebut. Arwah tadi mulai berjalan menuju ke arah anak tunanetra tersebut, anak tersebut masih kesusahan mengambil buku yang dia ingin capai, lalu saat anak tersebut sudah memegang buku tersebut, arwah tadi mencekik leher anak tunanetra tersebut dengan erat, yang membuat anak tersebut kehabisan nafas, dan akhirnya mati, lalu arwah itu tidak berhenti di situ, ia mengamburkkan rak buku yang berbahan kayu tebal ke tubuh anak tadi, dan tubuh anak tersebut pun hancur.

                Saat Lingsir terbangun, Lingsir sudah melihat tubuh anak tersebut yang hancur tertimpa rak, dan pada saat itu orang tua dari anak itu datang dan ketika melihat anaknya, langsung menangis bercampur aduk dengan rasa marah terhadap Lingsir, lanngsung menampar pipi Lingsir dengan keras. Lingsir pun berlari jauh  dari rumah tersebut sambil eninggalkan sepucuk surat “Maafkan saya bapak, ibu, tapi saya sudah melawan arwah terebut dengan sekuat tenaga saya, dan pada akhirnya ia mengalahkan saya. Dan arwah tersebut merupakan santet yang dikirim oleh seseorang yang mempunyai hubungan harta dengan bapak dan ibu, sehingga orang terebut dendam, dan ingin menghancurkan keluarga ini. Santet tersebut bernama seribu cadar, dan sulit untuk dapat mengalahkanya, untuk kejadian ini semua, saya meminta maaf. Dengan maaf: Lingsir”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

AWAL MULA BANGSA BERINGAS

 di masa pembangunan Negara di masa pengabdian menjarah kita berperang dengan kerumunan para oplet dan bus yang berdesakan adalah lambang ne...