Februari 2023
Nirmala
Kumala Sari adalah seorang anak yang terlahir dari keluarga yang kurang
berkecukupan, sehingga membuatnya harus bekerja sendiri untuk sekolah di umur
nya yang ke dua belas. Nirmala merupakan anak yang sudah ditinggal oleh ibunya
sejak kecil, hal ini yang membuatnya menjadi pribadi yang mandiri, Nirmala
masih mempunyai seorang Ayah, akan tetapi ayahnya sedikit gila karena ditinggalkan oleh istrinya. Hal ini juga yang membuat Nirmala terpukul ketika hidupnya. Nirmala juga sering dipukul
oleh ayahnya ssendiri, walaupun ia tak bersalah apapun. Pada umurnya yang ke
dua belas ini, ia bekerja untuk membiayai sekolahnya, akibat ayahnya yang sudah
dipecat dari pekerjaannya dulu, ketika masih bekerja di sebuah perusahaan.
Kini
Nirmala bekerja di sebuah rumah besar, merawat seorang nenek yang berkebutuhan
khusus. Nenek ini ditinggalkan oleh anaknya bekerja, anaknya sendiri bekerja
sebagai CEO sebuah perusahaan besar. Anak dari seorang nenek yang diasuh oleh
Nirmala ini bernama Andhika Prasetya, ia jarang sekali bertemu dengan ibunya,
karena kerepotannya pada pekerjaannya, hal ini yang membuat Andhika mencari
pengasuh, untuk merawat ibunya, dan Nirmala terpilih menjadi pengasuh ibunya.
Pada
pagi ini Nirmala berangkat dari rumahnya untuk pertama kalinya bekerja di rumah besar tersebut.
Nirmala memasak untuk ayahnya terlebih dahulu sebelum berangkat bekerja, dan
Nirmala juga makan terlebih dahulu, sambil menyuapi ayahnya. Seorang anak
perempuan datang ketika Nirmala dan ayahnya sedang menikmati hidangan, gadis itu
mengetuk pintu kayu rapuh rumah Nirmala. Gegas Nirmala segera datang
menghampiri orang yang megetuk pintu rumahnya tersebut. Ketika sudah di depan
pintu Nirmala melihat seorang gadis dengan kaos hitam lusuh, gadis itu
merupakan teman Nirmala yang dulu dirawat oleh ayah dan juga ibu Nirmala,
karena sejak lahir gadis ini sudah ditinggalkan oleh kedua orang tuanya yang
bercerai. Gadis tersebut bernama Lingsir Nigrahayu, Lingsir datang untuk
merawat ayah Nirmala, membantu Nirmala sebagai ucapan terima kasih, karena dulu sudah merawatnya, Lingsir akan merawat ayah Nirmala selama Ia bekerja di rumah besar tersebut. Lingsir
merupakan salah satu anak yang mempunyai penglihatan supranatural, dan
sebelumnya Lingsir bekerja di sebuah rumah, ia diminta untuk merawat seorang anak tunanetra. Sudah bertahun-tahun Lingsir bekerja di rumah tersebut, tapi suatu
hari dimana Lingsir tak dapat melupakannya, anak tunanetra yang dirawat Lingsir
tewas mengenaskan, anak tunanetra tersebut meninggal tertimpa rak buku, saat
anak tersebut ingin mengambil sebuah buku, di rak tersebut. Lingsir yang
melihat kejadian tersebut di depan mata kepalanya sendiri trauma dengan apa yang
sudah dia lihat dahulu. Lingsir di jadikan tersangka oleh keluarga anak tunanetra ini, hingga kini. Pertanda kematian anak tunanetra ini sudah diketahui oleh Lingsir sebelumnya. Saat Lingsir sedang
membersihkan rumah yang ditempati anak tunanera tersebut, Lingsir melihat seorang arwah yang melihatnya dengan tatapan kosong, hal ini tidak terlalu dihiraukan
oleh Lingsir, karena sudah biasa arwah berperilaku seperti ini. Akan tetapi
Lingsir mulai curiga dengan adanya kemunculan arwah tersebut, karena arwah
tersebut muncul setiap harinya, dan semakin lama posisinya mulai mendekat dengan posisi anak tunanetra yang Ia rawat. Lingsir yang sudah tau bahwa arwah itu merupakan
santet yang dikirim oleh seeorang yang berselisih harta dengan keluarga anak
tunanetra ini, mulai memberanikan dirinya untuk melawan ''santet'' tersebut.
Lingsir bertanya kepada arwah tersebut ”ada keperluan apa anda datang menemui
anak ini?” tanya Lingsir, santet terebut mejawab “sing gak nduwe urusan gak
usah melu-melu”. Sambil bergetar ketakutan karena sosok arwah tersebut, dengan
berpakaian muslim wanita dan bercadar, dengan mata merah melotot yang hampir
keluar, Lingsir menjawab ungkapan dari arwah tersebut”Apakah dia mempunyai
kesalahan kepadamu, siapa kamu?” dengan ketawa yang memekikkan duping teliga
Lingsir, arwah tersebut menjawab”Sudah kubilang, sing gak nduwe urusan karo aku
gak usah melu-melu!” dengan teriakan, arwah tersebut melemparkan tubuh Lingsir
menghantam tembok. Arwah terebut perlahan berjalan menuju arah anak tunanetra itu
yang sedang ingin mengambil buku di sebuah rak buku besar tempat koleksi bukunya disimpan, Lingsir yang
tersadar bahwa anak tunanetra tersebut terancam nyawanya, langsung berlari dan memukul
peluk arwah tersebut, arwah tersebut dengan mudah mengangkat Lingsir, dan memuntahkan darah kedalam mulut Lingsir, lalu menghujamkan tubuh Lingsir ke tanah, dan menimpanya dengan tumpukan tinggi kardus karton, Lingsir pun pingsan akibat
kejadian tersebut. Arwah tadi mulai berjalan menuju ke arah anak tunanetra
tersebut, anak tersebut masih kesusahan mengambil buku yang dia ingin
capai, lalu saat anak tersebut sudah memegang buku tersebut, arwah tadi mencekik
leher anak tunanetra tersebut dengan erat, yang membuat anak tersebut
kehabisan nafas, dan akhirnya mati, lalu arwah itu tidak berhenti di situ, ia
mengamburkkan rak buku yang berbahan kayu tebal ke tubuh anak tadi, dan tubuh anak
tersebut pun hancur.
Saat
Lingsir terbangun, Lingsir sudah melihat tubuh anak tersebut yang hancur
tertimpa rak, dan pada saat itu orang tua dari anak itu datang dan ketika
melihat anaknya, langsung menangis bercampur aduk dengan rasa marah terhadap
Lingsir, lanngsung menampar pipi Lingsir dengan keras. Lingsir pun berlari jauh dari rumah tersebut sambil eninggalkan
sepucuk surat “Maafkan saya bapak, ibu, tapi saya sudah melawan arwah terebut
dengan sekuat tenaga saya, dan pada akhirnya ia mengalahkan saya. Dan arwah
tersebut merupakan santet yang dikirim oleh seseorang yang mempunyai hubungan
harta dengan bapak dan ibu, sehingga orang terebut dendam, dan ingin
menghancurkan keluarga ini. Santet tersebut bernama seribu cadar, dan sulit
untuk dapat mengalahkanya, untuk kejadian ini semua, saya meminta maaf. Dengan
maaf: Lingsir”.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar