di masa pengabdian menjarah
kita berperang dengan kerumunan
para oplet dan bus yang berdesakan
adalah lambang negara kita.
di langit ke tujuh, Tuan?
bermain monopoli perdagangan bersenjata-
oknum gelap mata di surga dan
Tangan rakus. Memporak-porandakan
Uang
Hak
Jabatan
Kekuasaan
Nusantara, negara nusa di antara
pulau-pulau kesatuan tak menyatu
hanya menyatu, dengan-
harum kalimat
"Kami menjanjikan kesatuan rakyatku!"
hingga janji-janji itu direbus Tuhan di neraka
bersama tubuh-tubuh, mereka menjilat.
Sedari lahir, kami di sini
Sandari bersama, bahu-membahu keragaman di sini
Sandangi pangan "layak" di sini
Sadari. Sekarang. Saat ini. Indonesia ini, tak lagi di sini.
Inspired by: Raja Mustafa K.R.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar