Beberapa hari yang lalu, aku merajut kenangan bersama keluargaku. Kami pergi ke Banyuwangi di Indonesia, kami berangkat pada jam 15.00, dan kami menghabiskan langkah kendaraan kami dengan bernyanyi, bercerita, dan yang lain-lainya. Perasaan lubukku tidak dapat kusembunyikan di antara kebahagiaan itu, aku bahkan tidak dapat memejamkan mataku, pada hari itu.
Singkat cerita, kendaraan yang kami kendarai pada saat itu sudah memacu habis energinya di jalan tol, dan tol itu berhenti di Boyolali. Pada saat itu waktu sudah menunjukkan jarumnya pada waktu maghrib, dan kami memutuskan perjalanan itu, dengan menghampiri sebuah villa yang bedekatan dengan suatu pantai, di sana juga terdapat restoran untuk pengunjung villa tersebut. Aku memutuskan untuk beribadah saat itu juga, setelah itu aku mengajak saudara kandungku untuk pergi ke pantai dekat villa tersebut. Di sana kami menghampiri ombak dan angin yang menyapa lembutt tubuh kami pada malam itu, bak sedang mengenalkan kami dengan berbagai karya tuhan yang dibuat untuk umat manusia. Sepasang mataku melihat adanya dermaga kapal pesiar
yang ada di sana, dan kapal-kapal itu melambaikan lampu-lampunya sebagai petanda, bahwa badan kapal itu menghampiri dermaga. Kami pun berlarian menuju deraga tersebut untuk meliha kapal itu bersandar pada dermaga. Sesampainya kami di dermaga tersebut, kami meminta izin kepada penjaga dermaga, untuk dapat menaiki kapal pesiar tersebut. Di dalam kapal tersebut, terdapat sebuah kamar dengan pernak-pernik yang lainnya, dan kamar tersebu memiiki balkon, yang menuju ke bagian depan kapal pesiar tersebut. Pada bagian depan tersebut kami menemui adanya kemudi, dan 2 tempat duduk untuk bersantai, angin-angin yang menari di pantai tersebut seakan membawakan kami alunan musik, yang lembut terurai di telinga kami.
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, kami memutuska untuk segera kembali ke villa, takutnya nanti orang tua kami mencari keberadaan kami, aku berjalan langkah demi langkah bersama saudaraku, tak terasa kami sudah berkelana jauh ke dalam pantai. Setibanya kami di villa, Bunda memintaku untuk segera bersiap-siap "Loh, mau kemana ini?" dalam hatiku, kami segera menaati perintah Bunda untuk segera bersalin pakaian.
Kami diajak keluar dari lokasi villa, untuk mencari makan malam. Bunda ingin sekali mencoba makanan khas Banyuwangi, ucap Bunda. "ya... itu banyak sekali, aku tidak bisa menyebutkannya satu-satu" ucapku kepada Bunda. Kami pergi ke sebuah restoran khusus makanan khas Banyuwangi, dan kami disambut dengan adanya penari, yang menggunakan selendang di bagian pinggang dan juga dibagian kepala, yang menurutku seperti mahkota, dan mereka menari dengan alunan musik.ku tidak tahu itu menggunakan alat musik apa. Aku memutuskan untuk segera mengambil makanan, karena perutku ini, sudah melihai-lihai seperti meminta perhatianku untuk segera diberi makan. Aku segera memesan makanan. Dan makanan itu datang dengan porsi yang banyak, aku bertanya pada pegawai tersebut "mas permisi, apakah porsi yang diberikan memang segini?" pegawai tersebut menjawab, bahwa memang porsi makan orang sekitar biasa makan dengan porsi seperti itu, dan aku pun mengangguk paham. Aku segera mencari tempat duduk yang strategis untuk makan, sambil menikmati hidangan, aku melihat penari yang berdansa dengan selendangnya, yang terkesan indah di mataku. Saat tengah menikmati makanan, salah satu pegawai di rumah makan tersebut menghampiriku, dengan membawakan minuman yang bernama "dawet" katanya, dan durian khas Banyuwangi, aku sangat menikmati hidangan pada malam itu karena masakan khas Banyuwangi ternyata cocok dengan lidahku.
Pada pukul 22.17, kami memutuskan untuk kembali ke villa, karena besok, kami masih harus melanjutkan perjalanan.
Keesokan harinya aku bangun pada pukul 05.00, aku memutuskan untuk segera menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Kita masih memiliki hutang kepada tuhan, dengan bersimpuh di hadapan-Nya, aku berdoa dengan untaian kata pinta keselamatan selama di perjalanan. Kemudian aku diminta oleh bunda untuk segera mandi, aku adalah orang dengan waktu terlama mandi di dalam keluargaku loh! makannya pada saat itu aku di teriakki bunda untuk segera keluar. Dalam hatiku''bukannya tadi aku disuruh untuk mandi segera dengan bersih?" ya sudahlah namanya juga orang tua. Usai aku mandi, ruangan kamar hotel pada saat itu terasa dingin sekali, seperti punya dendam terhadapku. Lalu aku bergegas untuk menyeduh kopi lalu duduk di balkon kamarku. Tak terasa seruput kopi yang bertemu bibirku telah habis, lalu Bunda memanggilku untuk segera bersiap-siap untuk meninggalkan kamar hotel, dan breakfast yang disediakan gratis dari hotel. Aku yang selalu kalap dalam makanan, spontan langsung packing dan pergi menuju ruang makan. Di sana tersaji berbagai makanan, yang siap untuk disantap. Lalu aku mengambil makan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar